Cerita Dewasa Sedarah – Halo, aku Raka. Sekarang aku sudah lulus kuliah dan punya pekerjaan sebagai programmer lepas. Waktu kejadian ini bermula, aku masih 18 tahun dan baru semester awal di kampus di Kota Kembang. Badanku lumayan atletis, hasil dari rutin futsal dan nge-gym, tinggiku sekitar 170 cm. Senang sekali rasanya bisa kuliah di kota ini dan tinggal di rumah paman yang lumayan besar, dekat dari kampus. Artinya, aku bisa sedikit bebas melakukan eksplorasi dengan pacarku, Anya, yang kebetulan juga kuliah di kota yang sama. Anya itu hot banget, usianya 19 tahun, badannya semampai 160 cm, dengan buah dada 34B yang padat dan pantatnya itu loh, bulat minta digigit! Namun, nasib berkata lain, scene panas dengan Anya jadi jarang terealisasi. Gara-garanya, adik bungsu pamanku, Tante Kinar, yang baru pindah ke sini untuk ambil kursus desain interior, ikut tinggal di rumah paman. Kamarnya pas banget di sebelah kamarku. Tante Kinar ini orangnya baik, perhatian, dan asyik diajak ngobrol. Usia kami cuma beda empat tahun saja. Jadi, walau baru sebentar tinggal bareng, aku sama Tante Kinar cepat akrab banget, kayak teman seumuran. Tante Kinar punya tinggi sekitar 158 cm, lebih pendek dariku. Tapi, yang bikin aku salah fokus, buah dadanya itu loh, bulat dan menonjol, kayaknya sih ukuran 36C—jauh lebih montok dari Anya. Pernah suatu sore, aku nyelonong masuk kamar Tante Kinar tanpa ketok karena mau pinjam headphone. Jeder! Aku kaget setengah mati. Tante Kinar lagi ganti baju, cuma pakai bra renda warna ungu dan celana dalam senada yang melekat ketat di tubuhnya. Astaga, pemandangan yang menggugah iman banget! Tapi aku langsung malu dan buru-buru tutup pintu lagi. Topik tentang Cerita panas tante lainnya : Ngentot Dengan Tante Setelah Mandi Di rumah paman, kalau Tante Kinar libur atau jadwal kursusnya sore, dia sering banget bantu beres-beres, nyapu dan mengepel. Sering kali aku curi pandang, melihat dua aset montoknya itu bergoyang lembut di balik kausnya yang berleher agak rendah, baik pas nyapu atau mengepel. Bikin gelora birahi di bawah perutku langsung naik. Kalau lagi santai nonton TV di ruang tengah, aku suka iseng njailin Tante Kinar. Sengaja aku biarin kakiku menjulur di lantai, padahal dia sudah bilang berkali-kali supaya aku naikin ke atas sofa. Tante Kinar sering agak kesel, tapi enggak pernah marah. Saat dia menegur, aku sering balas menggelitik pinggangnya. Dia pasti tertawa kegelian dan meronta ke sana kemari. Di tengah keributan itu, jari-jariku suka enggak sengaja menyentuh buah dadanya yang montok, dan badannya sering oleng dan jatuh nimpa pangkuanku karena enggak kuat menahan geli. Posisi kayak gitu bikin aku gelisah parah. Rudalku yang sudah keras tegang di balik celana pendek, tertindih oleh tubuh bagian atasnya, tepatnya oleh buah dadanya yang padat. Aku mati-matian nahan agar dia enggak sadar. Aku enggak pernah kepikiran apalagi berencana untuk menggempur adik kandung pamanku sendiri. Selain karena aku ngeh dia adik paman, seleraku juga lebih ke mature kayak pacarku, Anya. Tapi, takdir berkata lain. Semuanya sudah terjadi. Aku menggempurnya hampir di setiap kesempatan. Kejadian awalnya bermula sekitar dua minggu setelah Tante Kinar tinggal di sini. Paman dan bibi lagi ada perjalanan dinas ke luar kota selama beberapa hari. Pagi itu, rumah sepi banget, cuma ada aku dan Tante Kinar. Seperti biasa, Tante Kinar lagi sibuk menyapu dan mengepel. Aku duduk di sofa sambil pura-pura fokus nonton TV. Aku kembali iseng njulurin kakiku di lantai. Tante Kinar yang melihat tingkahku langsung menyerang. “Aduh Raka, kamu bandel ih!” ucapnya manja sambil mengeluarkan jurus menggelitik pinggangku. Aku enggak tinggal diam, aku balas menggelitik pinggangnya. Dia tertawa ngakak kegelian sambil menggelinjang enggak karuan. Akhirnya, dia menyerah dan memeluk pinggangku erat dengan kepala pas di perutku. Lanjut Bab Dua: Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu CHAPTER DUA Aku pun berhenti menggelitik. Dia melepaskan pelukannya, lalu bersandar di sofa sambil terengah-engah kecapean. Keringat membasahi wajah dan lehernya. Duh, aku memang suka banget lihat cewek lagi berkeringat. Seksi banget. Sambil bersandar, dia mengusap lembut rambutku. Aku balas mengelap keringat di wajah dan keningnya. Tante Kinar tersenyum manis—lebih manis dari biasanya. Tiba-tiba, entah dorongan dari mana, aku berani mencium keningnya. Sialan, aku mendadak jadi sayang dan ingin lebih dekat dengannya. Tante Kinar enggak marah sama sekali. Malah, dia menyentuh lembut pipiku sampai akhirnya mencium lembut bibirku. Mendapat rambu hijau itu, aku balas mencium bibirnya. Awalnya ciuman biasa, tapi lama-lama lidah Tante Kinar menerobos masuk ke dalam mulutku. Kesempatan enggak aku sia-siakan. Aku melilitkan lidahku dan mengenyot lidahnya dengan lembut. Tante Kinar melingkarkan kedua tangannya di leherku. “Sssshhhhhh, eeehhhhmmmm,” desahnya hangat saat ia melepas bibir bawahnya sebentar untuk mendesah liar di tengah ciuman panas kami. Aku hentikan ciuman itu. Aku cium dan jilati lehernya yang sudah basah oleh keringat. Tante Kinar makin bernapsu dan tangannya sudah meremas-remas kepala serta rambutku. Perlahan, aku membuka kaus putih yang ia kenakan. Terlihat bra ungu yang pernah aku lihat. Segera, aku jilati bagian atas buah dadanya yang enggak tertutup bra. Tante Kinar paham, dia langsung membuka bra-nya sendiri agar aku bisa bermain leluasa. Kulitnya yang putih mulus bikin areola cokelat muda kemerahan di tengah buah dadanya jadi menggoda banget. Sayangnya, putingnya kecil, meskipun sudah mengeras di tengah buah dada yang padat dan kenyal itu. Aku hisap, aku jilat, aku kenyot-kenyot lembut buah dada dan putingnya. Tante Kinar bergerak gelisah, tanda birahinya sudah di puncaknya. Tangannya sudah berada di atas rudalku di luar celana pendekku. Tante Kinar mengusap-usap rudalku sedikit kasar. Aku tetap liar memainkan lidah dan mulutku di kedua buah dadanya yang montok, kenyal, dan padat itu. Tante Kinar kemudian berdiri dan melucuti celana pendek dan menurunkan celana dalamnya sendiri. Tampak serambi lempitnya begitu tembem dan tanpa ada bulu sedikit pun. “Wow, seksinya!” bisikku dalam hati. Dia memintaku berdiri, lalu menurunkan celana pendekku beserta celana dalamnya, sehingga rudalku yang sudah sangat keras menunjuk ke depan. Tante Kinar tampak kaget melihat rudalku yang besar dan panjang. Wajahnya memerah dan dia enggak berkedip menatap rudalku. Tante Kinar makin liar bermain dengan rudalku. Dia mulai menjilati dan memaju mundurkan kepalanya. Dia lebih mahir daripada Anya, rudalku enggak pernah menyentuh giginya. Kepala rudalku di kenyot-kenyot lembut, sambil tangannya meremas biji pelerku dengan lembut juga. Sial, dia kelihatan berpengalaman banget mengoral kelamin cowok. Melihat Tante Kinar mulai kelelahan, aku beranjak ke pintu untuk mengunci rumah. Setelah aman, aku suruh Tante Kinar duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar. Dia nurut. Terlihat serambi lempitnya yang tanpa bulu dan tembem itu. Aku segera menjilati serambi lempitnya perlahan dan lembut, dari mulai liangnya yang kecil sampai itilnya yang sudah mengeras. Hampir seluruh kulit tubuhnya memerah saat aku mulai memainkan lidah dan mulutku di serambi lempitnya. “Aaaaaaeeeeehhhhhh, sssshhhhh,” desahnya sambil tubuhnya bergerak-gerak ke sana kemari, menikmati sensasi nikmat di serambi lempitnya. Aku coba mencolokkan jari tengahku ke liang serambi lempitnya yang sudah sangat basah oleh cairan. Peret banget dan agak sulit memasukkan jariku. Aku kocok jari tengahku perlahan, sambil mulutku mengenyot dan menjilati itilnya yang sudah tegang. “Eeeemmhhhh, ooouuuuuuhhhhh, eeessssshhhhhhh,” desah dan erangannya bikin suasana makin panas! Aku terus jilat, hisap, dan kenyot itilnya dengan lembut dan terkadang dengan kenyotan kuat. Sementara jari tengahku sudah makin leluasa mengocok liang serambi lempitnya. Perlakuan ini berlangsung hampir 15 menit sampai akhirnya Tante Kinar mencapai orgasme pertamanya. “Aaaaaaaaaahhhhh, ooooouuuuhhhhh Raka!” erangnya, sambil tangannya mencengkeram kuat dan menekan kepalaku pada serambi lempitnya yang berkedut-kedut hebat. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang dihantam orgasme. Cairan orgasmenya membasahi tangan serta daguku. Perlahan aku tarik jari tengahku. Napas Tante Kinar masih terengah-engah. Aku minta dia untuk nungging di atas sofa. Tanpa banyak bicara, dia langsung ambil posisi. Posisiku yang berdiri di depannya bikin aku lebih leluasa menusukkan rudalku ke liang serambi lempitnya. Tangan kananku mencengkeram pantat bulatnya yang lembut, lalu aku arahkan rudalku ke lubangnya dengan bantuan tangan kiriku. Kepala rudalku lumayan sulit masuk ke lubang serambi lempitnya yang peret. Tapi, dengan dorongan agak kuat, aku dorong perlahan sampai akhirnya rudalku terbenam seluruhnya, dibantu cairan serambi lempit dan sisa cairan orgasmenya. Akhirnya, liang serambi lempit Tante Kinar bisa menyesuaikan dengan rudalku yang besar dan panjang. Aku jadi lebih leluasa memaju mundurkan rudalku di dalamnya. “Eeemmm Raka, eeeemmmhhh, enak Raka!” desah Tante Kinar. Aku makin semangat memompa rudalku. Aku mulai menambah kecepatan, sehingga bunyi “plok plok plok” terdengar makin gencar dan keras. “Aaaahhhhhhh, aaaaeeeeehhhhhh, sssshhhhh, ooooouuuhhhh!” desah tanteku seiring gerakanku yang makin cepat. Sambil menggenjot, kedua tanganku ikut meremas-remas agak kuat pantat bulatnya. Desahan dan erangannya makin liar membahana. Kami enggak peduli suara kami bakal kedengeran tetangga. Tante Kinar mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Aku kocok terus serambi lempitnya dengan rudalku dengan kecepatan penuh. “Raka! Aku keluar! Aaaaooooouuuhhh, ooooouuuuuwwww, sssssshhhh!” erangnya saat mendapat orgasme keduanya. Aku hentikan gerakanku, menikmati kedutan-kedutan serambi lempitnya pada rudalku yang masih tertanam kuat. Rudalku terasa tercengkeram di dalamnya. Nikmat banget. Setelah gelora orgasme Tante Kinar mereda, aku menelentangkan tubuhnya di sofa. Dengan penuh pengertian, dia merentangkan kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa menusukkan rudalku. Bibir serambi lempitnya masih memerah. Melihat serambi lempitnya yang indah—tanpa bulu, tembem, dan merah—bikin aku menelan ludah sendiri. Dengan mudah aku masukkan rudalku. Setelah rudalku terbenam makin dalam, aku mulai menggenjot maju mundur dengan cepat. Gerakanku yang cepat bikin kedua buah dada montok dan kenyal Tante Kinar bergoyang-goyong naik turun. “Aaaaaaeeeeehhhh, eeeehhhmmmmm, oooooouuuuuhhhh!” Desah Tante Kinar. Aku terus mengocok serambi lempitnya. Mata Tante Kinar terpejam dengan mulut menganga sambil enggak berhenti mengeluarkan desahan-desahan yang sangat sensual. Aku raih kedua buah dadanya yang bergoyang indah itu. Aku mulai remas-remas buah dada montok, padat, dan kenyalnya, mengkombinasikan remasan lembut dan cengkeraman agak kuat, sambil terus menggenjot cepat di dalam lubang serambi lempitnya. Tante Kinar menggelinjang-gelinjang di sofa dengan mata terpejam, pipi makin merah, dan mulut menganga yang enggak berhenti mengeluarkan desahan serta erangan. “Aaaaaaoooouuuwwww, aaaaaaahhh, Raka, aku keluaaaar!” erang Tante Kinar sambil memeluk tubuhku erat. Hampir berbarengan dengan orgasme ketiganya, akhirnya aku pun mencapai orgasme. Aku cabut rudalku. Banyak banget sperma tertumpah di atas perut Tante Kinar. Setelah kami selesai, aku gendong Tante Kinar sambil berciuman menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari segala cairan dan lendir birahi. Setelah bersih, kami bersantai di sofa sambil berpelukan dan berbagi cerita. Pertanyaan-pertanyaan di kepalaku akhirnya terjawab. Ternyata Tante Kinar sudah enggak perawan sejak kelas 3 SMA. Awalnya pacarnya cuma sering mengajaknya nonton film dewasa dan minta dia melakukan oral saja. Tapi, karena oral terlalu sering, hampir satu tahun, pacarnya minta lebih. Tante Kinar menolak sampai akhirnya diperkosa oleh pacarnya. Dia hancur, tapi pacarnya enggak lantas meninggalkannya. Hingga akhirnya Tante Kinar lama-lama percaya dan yakin pacarnya setia. Tapi dugaannya salah, setelah cukup sering menggenjot dengannya, si pacar tiba-tiba pergi begitu saja dan sulit dihubungi. Aku pun terbuka pada Tante Kinar. Aku cerita, bukan cuma soal pergaulan kampus, tapi juga kalau aku sudah kehilangan keperjakaan sejak kelas 2 SMP. Aku sudah sering nonton film dewasa dan sering menggenjot dengan Bu Suti, tetanggaku di kampung yang sering ikut numpang ke kamar mandi rumahku dulu. Tante Kinar kaget, tapi dia paham dengan keadaanku. Kami berjanji enggak akan membocorkan aib ini pada keluarga. Raka dan Tante Kinar akhirnya sering mengulangi adegan panas itu, mencari setiap celah sepi di rumah paman, terutama saat malam hari setelah Tante Kinar selesai dengan tugas kursusnya.
Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu Online
Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu pembaruan anyar Februari 2026 di Konten21 Mirror. Baca tanpa biaya dengan server kenceng.
Lihat juga: Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu, Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum, Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral.
Update cerita terbaru setiap hari di Konten21 Mirror.
Info Download
Video akan tersedia untuk download setelah iklan dibuka.
Simpan Konten
Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.
Konten Serupa
Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu Online
Kisah Nyata Bercinta Dengan Janda Anak Satu Cerita Mesum Story
Read Kisah Nyata Ngentot Pembantu Yang Masih Perawan Cerita Ngewe Viral
Cerita Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku
Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono
Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya | Konten21 Mirror
Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur