Cerita Sex Dewasa – Aku adalah seorang janda, usiaku sudah tiga puluhan lebih, dan seringnya orang-orang menganggap aku ini perempuan tidak benar. Mau bagaimana lagi? Kalau aku diam di rumah, orang bilang aku ini janda yang nggak bisa cari uang setelah ditinggal mati suaminya. Tapi kalau aku nggak keluar rumah, mereka bilang aku gila karena sering mengurung diri. Terus kalau aku keluar dan dandan sedikit, mereka langsung ngomong kalau aku ini janda yang doyan cari laki-laki. Memang sih, mereka punya alasan untuk bilang begitu karena aku dicerai. Sejujurnya, aku tidak pernah peduli omongan orang. Aku hanya butuh uang untuk membiayai anakku yang satu-satunya, Anto, yang sudah SMP dan perlu banyak biaya. Aku janji pada diri sendiri untuk menyekolahkan Anto setinggi mungkin, agar hidupnya lebih baik dariku. Aku kembali membuka kios garmen milikku di pasar yang dulu sempat tutup karena almarhum suami nggak mengizinkanku berjualan lagi. Suami aku dulu selingkuh, makanya aku minta cerai. Aku bener-bener ingin mandiri lagi. Aku bertekad membenahi kios dan menjual pakaian-pakaian yang lagi tren di kalangan anak muda. Kiosku jadi ramai, apalagi dengan penataan pakaian yang aku buat agar terlihat menarik. Akhirnya aku dapat pelanggan. Seorang laki-laki muda berumur 19 tahun, wajahnya baby face banget, rapi dan manis. Jantungku langsung berdebar. Dia itu kayak burung muda yang polos dan gampang banget buat digoda. Aku lupa umurku, yang penting dia manis dan rudalnya gede. Setelah dia mencocokkan celana jeans yang dia mau beli, aku ikut masuk. Aku pura-pura kaget dan dia salah tingkah. “Gimana, pas?” tanyaku. “Kurang besar dikit, Mbak,” jawabnya. Aku balas dengan pertanyaan mengarah, “Apanya yang kurang besar? Mungkin ‘anu’-nya yang kegedean?” Dia cuma senyum. “Pasti pacarmu puas pacaran sama kamu,” kataku lagi. “Kenapa, Mbak?” “Habis, besar dan panjang,” jawabku sambil melirik rudalnya. Perekku langsung berdenyut, sudah lama banget nggak ada rudal masuk. Baca juga: Pengalaman bersetubuh dengan ibu “Aku belum pernah punya pacar, Mbak. Apa Mbak mau?” Dia langsung nembak begitu saja. Aku kaget. “Apa kamu sudah pintar?” tanyaku. “Belum sih. Tapi Mbak kan bisa mengajari aku nanti,” jawabnya santai. “Boleh juga,” balasku tak kalah lugas. Denny, namanya. Dia baru lulus SMA dan belum dapat kuliah. Aku jadi nggak sabar. Aku nggak mau lepasin kesempatan ini. Aku nggak mau hamil, makanya aku minum jamu peluntur biar aman. Di dalam kamar pas, aku langsung memeluknya, menciumi bibirnya, dan mengelus-elus rudalnya yang langsung tegang. Tiba-tiba ada mobil parkir di depan kiosku, aku langsung berhenti dan pura-pura biasa saja. Ternyata cuma mobil orang yang mau belanja di kios lain. Setelah dia bayar, kami ngobrol-ngobrol sambil minum jus. Aku sengaja pesan jus biar obrolannya lama dan aku bisa tahu banyak tentang dirinya. Kami janjian pulang bareng, naik bus. Lalu, kami turun di persimpangan, langsung cari hotel yang murah. Begitu pintu kamar hotel kukunci, aku langsung menyerbunya, mencium bibirnya, dan mengelus rudalnya dari balik celana. rudalnya langsung tegang. Aku harus jadi yang pertama mengajarinya nikmatnya seks. Begitu juga aku. Aku buka pakaiannya dan pakaianku. Aku mulai menjilati tubuhnya yang atletis dan langsung kuhisap rudalnya. Aku melihatnya menggelepar-gelepar kayak ikan. Aku jilati kepala dan batangnya sampai dia sampai di puncak. Spermanya keluar, banyak banget. Gleekk… aku menelannya. Aku heran kenapa aku bisa begitu, padahal sama suamiku dulu aku nggak pernah. Tapi ternyata sperma itu rasanya enak. Kami rebahan sambil senyum. Dua jam kemudian, kami ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku sabuni rudalnya sampai bersih. Kami kembali ke ranjang, aku memeluknya. Aku sudah nggak tahan pengen rudalnya masuk ke dalam serambi lempitku. Aku suruh dia mengisap tetekku, tapi dia kaku, dia belum tahu caranya. Pasti dia belum pernah bersetubuh. Aku harus mengajarinya. Setelah rudalnya keras, aku menaikinya. Aku masukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Aku goyang-goyangkan dari atas, cari titik sensitif. Begitu ketemu, aku fokus di situ. Aku harus keluar duluan. Aku jilati lehernya, tetekku aku gesek-gesekkan di dadanya. Lidahnya aku isap. Aku elus-elus kepalanya. Aku goyang dan goyang lebih cepat lagi. Aku tekan kuat-kuat sampai batangnya mentok di ujung serambi lempitku yang paling dalam. Aku putar pantatku sampai ujung rudalnya menggesek-gesek ujung serambi lempitku. Akh… aku sampai di puncak kenikmatan. Aku peluk dia kuat-kuat. Aku gigit-gigit lehernya sampai dia kelimpungan. Srrrt… semburan lahar panas keluar dari rudalnya, Denny juga sampai di puncaknya. Sejak saat itu, kami sering bersetubuh. Denny makin pintar. Tapi aku bukan haus seks namanya kalau cuma puas sama Denny. Setelah bosan, aku cari mangsa lain. Biasanya aku kasih Denny celana jeans model baru. Itu udah cukup buat anak seumuran dia. Terus makan, minum, sama rokok sebungkus setiap kami ke hotel. Nggak perlu banyak biaya, yang penting pinter merayu. Aku butuh rudal dan kenikmatan. Aku cuma nggak mau hamil. “Mau beli apa, Dik?” tanyaku pada pembeli berseragam SMP. “Mau beli sepatu basket, Tante,” jawabnya sambil melihat-lihat sepatu. Hatiku langsung berbisik, Alamak, ganteng banget ini anak! Masih kecil sudah seganteng ini, apalagi kalau sudah dewasa! “Untuk anak ganteng kayak kamu, Tante kasih harga termurah,” rayuku. Dia melirikku sambil senyum. Jantungku kembali bergetar. Lanjut bab dua: Cerita dewasa mama janda dan anak kesayangan Chapter dua Apakah aku gila? Aku tertarik pada laki-laki 15 tahun, cuma dua tahun lebih tua dari anakku. Aku dekati dia, bantu milih sepatu. Tingginya sebahuku. Aku sengaja mendekat biar bisa mengukur tingginya. Namanya Andri. “Kamu belanja sendiri? Pacar mana?” godaku. “Belum punya pacar, Tante,” jawabnya malu-malu. “Nanti kalau pakai sepatu baru, pasti banyak perempuan suka,” pujiku. “Siapa, Tante? Tante ya?” tanyanya. “Kalau iya, kamu mau sama Tante? Tante kan sudah tua? Tapi cinta kan nggak bedakan umur, kan?” balasku. “Katanya cinta itu buta, Tante,” jawabnya sok pintar. Waktu dia mau ambil sepatu di atas, aku sengaja bantu dari belakang. Aku gesekkan tetekku ke punggungnya dan perutku ke pinggangnya. Perekku langsung berdenyut kencang lagi. “Ah, anak ganteng. Andaikan kamu pacar Tante, bakal Tante ajari kamu ciuman,” bisikku. Aku lihat dia senyum, dia pura-pura nggak dengar. Aku yakin banget bisa dapatin dia. Aku nggak suka laki-laki tua yang egois, aku suka yang bau kencur, manja, dan masih belajar. Aku mau dia dapat pelajaran seks pertamanya dariku. Itu tekadku. Aku buka tali sepatunya, aku jongkok di lantai, kepalaku menunduk. Aku sengaja memperlihatkan belahan dadaku dan selangkangan pahaku. Aku tahu dia melirik ke sana. Anak laki-laki sekarang memang cepat tahu soal seks. Entah karena gizi atau karena internet. “Kamu ganteng sekali, Andri. Mau ya jadi pacar Tante?” tanyaku lagi. “Tante nggak punya suami?” tanyanya sambil mengikat tali sepatu. “Tante sudah cerai. Tante nggak mau dimadu,” jawabku genit. “Pacaran itu enak nggak, Tante?” tanyanya lagi. “Wah, tentu enak. Kalau nggak, mana mungkin orang pacaran,” jawabku. “Kalau Tante jadi pacarku, kita ciuman?” katanya, tapi tangannya tetap membetulkan sepatu. “Tentu dong. Kalau kamu belum pernah, nanti Tante ajari,” kataku meyakinkannya. Dia bayar sepatunya. Harganya pas, aku nggak untung. Dia nulis sesuatu di kertas. Ternyata nomor HP-nya. Aku senyum. Sorenya, aku kirim SMS. “Halo, Sayang. I love you,” tulisku. Dibalas, “I love you 2,” katanya. Dari SMS, dia bilang mau datang ke kios sebelum tutup, mau cium aku dan minta aku isap rudalnya kayak di film porno. “Oke, aku pasti nungguin,” jawabku. Benar saja, pas aku mau tutup, dia sudah di depan kios. Dia masuk dan duduk. Duh, nekat juga nih anak, pikirku. Aku lihat sekeliling, nggak ada tanda-tanda dia bawa orang lain. Cepat-cepat aku tutup pintu, kunci, dan matikan lampu. Aku langsung menyerbunya. Aku cium bibirnya sambil meraba rudalnya yang sudah tegang. Andri juga meremas tetekku dari balik bajuku. “Aku berdiri, Tante,” katanya. “Buat apa, Sayang?” Aku tanya. Dia nggak jawab, langsung berdiri. Aku masih duduk di kursi pendek, dia keluarkan rudalnya dan arahkan ke mukaku. Aku tangkap dan langsung hisap serta jilati dengan penuh nafsu. Dia pegang kepalaku saat aku maju-mundurkan rudalnya di dalam mulutku. Aku nggak mau dia keluar di mulutku, aku butuh rudalnya masuk ke dalam serambi lempitku. Aku buka celana dalam dan angkat rokku. “Kamu duduk di kursi, Sayang,” pintaku. Setelah dia duduk, aku naiki dia. Kedua kakiku bertumpu ke sisi kursi dan aku jongkok mengarahkan serambi lempitku ke rudalnya. Perlahan rudalnya masuk. serambi lempitku sudah basah banget. Aku langsung goyang dan putar pantatku sampai rudalnya di ujung serambi lempitku yang paling dalam. Anak ini lebih pintar dari Denny. Dia peluk aku kuat-kuat. “Cepat, Tante, Andri sudah mau keluar,” bisiknya pelan. Aku juga harus keluar duluan. Aku putar dan goyang pantatku lebih cepat. Aku tekan kuat-kuat tubuhku sampai Andri merasa terbebani. Dan srrrrttt… dia juga menyemprotkan spermanya ke dalam serambi lempitku. Kami berpelukan erat. Andri itu masih remaja banget. Kata orang, kalau sama anak remaja, kita harus sabar dan pintar memuji. Pujian itu keinginan setiap laki-laki remaja. “Kapan lagi, Tante?” katanya sambil remas tetekku. “Kapan saja, Sayang. Tapi lebih baik di hotel biar bebas,” jawabku. Dia setuju. Kami akhirnya sering melakukannya, bukan cuma di hotel, tapi juga di vila orang tuanya. Ternyata Andri anak orang kaya. Setiap malam dia kirim SMS mesra, kayak dua orang remaja lagi pacaran. Dan inilah petaka buatku. HP-ku nggak sengaja ketinggalan di rumah, dan anakku, Anto, membacanya. Pas aku pulang, Anto langsung memberondongku dengan pertanyaan, “Siapa Andri itu?” Darahku berdesir. Aku bohong, aku bilang Andri cuma pelanggan. Tapi dia minta aku jujur. Dia malah kasih lihat salinan SMS Andri yang sudah dia cetak. Aku cuma bisa diam, menunduk. “Malam ini Mama juga mau ngentot nggak sama Anto?” katanya. Aku bilang dia masih SMP, nggak boleh. Lagian dia anakku! “Andri juga kan masih SMP, Ma?” dia balas tegas. “Tapi dia bukan anakku,” jawabku. Dia maksa, mengancam mau bilang ke neneknya, ibuku. Mati aku, bisikku. Aku diam saja, tetap nolak. Besoknya, Anto nggak pulang. HP-nya nggak aktif. Aku kesal, aku takut dia kenapa-kenapa. Aku hubungi teman-temannya, nggak ada yang tahu dia ke mana. Menurut salah satu temannya, Anto bawa ransel isinya pakaian. Aku telepon ibuku, aku malah dimarahi karena cucunya hilang. Aku bohong bilang cuma bertengkar kecil. Dua hari dia nggak masuk sekolah. Aku makin cemas. Apa dia ke rumah ayahnya? Kalau iya, aku bisa kehilangan dia selamanya, apalagi kalau dia cerita soal Andri ke ayahnya. Hak asuh anak bakal jatuh ke tangan mantan suamiku. Aku nggak mau itu terjadi. Aku langsung kirim SMS ke Anto, “Sayang, pulanglah. Mama kangen. Apa pun yang Anto minta, Mama kabulkan”. Dadaku berdebar kencang menunggu balasan. Aku berharap dia mau pulang, karena dia satu-satunya milikku. HP-ku bergetar. Dari Anto. “OK, Sayang. Aku sedang menuju pulang,” katanya. Serrr… darahku kembali mengalir. Aku dandan, nggak mau kelihatan lusuh. Aku tunggu dia di pintu. Waktu terasa lama sekali. Anto akhirnya sampai. Aku peluk dia penuh kasih sayang. Dia langsung masuk, tutup pintu, dan seret aku ke kamarnya. “Ada apa, Sayang?” tanyaku. Dia nggak jawab, malah buka semua pakaiannya. Bugil. “Mama buka juga,” katanya memerintah. Aku terkesima. Akhirnya dia yang buka semua pakaianku sampai aku telanjang bulat. Aku pasrah, biarin dia lihat seluruh tubuhku. Aku ingin mencekik dia karena memperlakukan ibunya begini. Tapi aku nggak bisa. Dua hari dia pergi aja aku udah kelimpungan. Anto peluk aku, isap tetekku. Lalu dia raba serambi lempitku, dan masukkan jarinya. Awalnya aku biasa aja, tapi lama-lama aku mulai bergetar. Semua yang dia lakuin persis kayak yang Andri lakuin. Aku sadar dia sudah baca semua SMS dari Andri. Semua yang Andri tulis, dia tiru. Dasar aku perempuan haus seks, rabaan anakku sendiri malah bikin aku birahi juga. Dia dorong aku ke ranjang, kangkangin pahaku, lalu jilati serambi lempitku dengan rakus. Aku jadi ingat SMS Andri yang bilang dia puas menjilati serambi lempitku. Aku jadi lupa yang menjilati serambi lempitku sekarang adalah anakku sendiri. Aku elus-elus kepalanya. Perutku juga dijilati, lalu dia hisap tetekku. Aku menggeliat. Anak 13 tahun itu rakus dan berani memperlakukan aku seperti pacarnya. Sambil menikmati jilatannya, aku tanya, “Kamu sudah pernah begini, Sayang?” “Sudah!” jawabnya singkat. “Sama siapa?” tanyaku gelisah. “Sama Bibi,” katanya. Bajingan! Ternyata anakku sudah melakukannya sama adik perempuanku yang juga baru cerai. “Di mana?” “Di rumah nenek.” “Kapan?” “Bulan lalu.” “Berapa kali?” “Enam kali,” jawabnya tanpa ragu. Pantas dia ketagihan seks. Sama kayak Andri yang ketagihan denganku. Aku raba rudalnya yang sudah keras. Dia tindih tubuhku, cari lubang serambi lempitku. Aku bantu masukkan rudalnya ke lubangku. rudalnya sama besarnya kayak rudal Andri. Dia kocok pelan di dalam. Pas ujung pentilku digigitnya, aku menggeliat. Kami pelukan dan saling goyang. Anto lebih pintar dari Andri, apalagi dari Denny yang 19 tahun. Aku angkat kakiku tinggi-tinggi biar rudalnya leluasa keluar masuk. “Ma, mulai sekarang, Mama nggak boleh lagi sama Andri. Anto yang gantiin Andri,” katanya sambil terus kocok rudalnya. “Iya, Sayang,” jawabku pendek. “Daripada Mama kasih Andri celana, mending kasih ke Anto, anak Mama sendiri,” katanya lagi. “Iya, Mama janji, Sayang,” balasku. Kami terus saling memuaskan diri. Sejak saat itu, aku nggak lagi goda laki-laki lain yang cuma merugikan bisnisku. Anto harus jadi milikku, lahir dan batin. Dia bukan milik ayahnya. “` Anto itu anak yang sangat manja. Aku memang memanjakannya sejak dulu. Setelah kami berhubungan badan, dia semakin manja dan meminta hal-hal yang dulu tak pernah dimintanya. Aku yang membiayai semuanya, mulai dari uang sekolah, makan sehari-hari, hingga bensin motornya. Sekarang, dia bahkan meminta uang saku harian lebih besar. Sebenarnya, aku tidak tega memberikan uang saku sebesar itu padanya, tapi aku tidak mau dia pergi lagi dari rumah. Aku takut dia akan mencari ibuku dan bercerita semuanya. Aku takut dia akan mengancamku lagi, dan yang lebih parah, aku takut kehilangan dia. Satu-satunya alasanku hidup ya cuma dia. Keesokan harinya, Anto masuk sekolah seperti biasa. Dia tampak ceria sekali. Sejak itu, dia mulai menciumiku sebelum berangkat sekolah. Dia juga semakin berani memelukku dan meraba-raba bokongku. Sebenarnya, aku risih. Tapi aku pura-pura tidak tahu dan hanya membiarkannya. Aku tidak mau dia marah, aku takut dia pergi lagi. Setelah sampai di rumah, Anto tidak pernah lagi bertanya tentang siapa Andri. Dia juga tidak lagi bertanya mengapa aku berpacaran dengan remaja seumuran dengannya. Dia hanya peduli padaku. Sepertinya, Anto lebih peduli jika aku hanya berhubungan dengan dia, satu-satunya anak laki-laki yang dia miliki. Anakku, bukan anak orang lain. Aku pun mulai membiasakan diri. Aku juga melayani semua permintaannya. Aku melayani semua hasratnya. Aku melakukannya dengan ikhlas, meski kadang timbul perasaan aneh. Di benakku, ini salah. Tapi di sisi lain, aku merasa begitu sayang dengannya. Anto memang anakku. Aku tak ingin kehilangannya. Hubungan kami semakin dalam. Aku memandikannya, membersihkan punggungnya, sampai aku juga membersihkan rambutnya. Saat memandikannya, Anto selalu menatapku penuh makna. Pandangannya kosong, tatapannya tidak pernah aku mengerti. Ketika aku sudah selesai memandikannya, kami mengeringkan tubuh di handuk yang sama. Dia memelukku dan mengusap-usap punggungku. Aku juga membalasnya. Hubungan kami seperti suami-istri. Kami melakukan semuanya, mulai dari berciuman, berpelukan, dan berhubungan badan. Aku merasa semakin dekat dengan Anto. Aku juga merasa dia semakin dekat denganku. Aku merasa memiliki Anto seutuhnya, lahir dan batin. Semenjak hubungan kami berlanjut, Anto selalu meminta untuk berhubungan intim di dalam kamarnya. Di kamarnya, kami tidak perlu khawatir ada yang melihat. Aku tidak perlu takut ada yang tahu, karena Anto sudah melarangku untuk berhubungan dengan lelaki lain. Dia bilang, “Kalau Mama mau berhubungan badan, sama aku saja. Jangan sama orang lain. Aku nggak mau Mama kena penyakit, dan aku nggak mau Mama sakit.” Aku senang, karena dia sangat peduli padaku. Aku merasa benar-benar dijaga oleh anakku sendiri. Tapi di sisi lain, aku takut. Jika suatu saat Anto bosan denganku, dia akan meninggalkanku. Aku takut hal itu terjadi. Aku juga takut dia akan mencari orang lain, apalagi kalau dia tahu kalau aku juga memiliki anak dari suami yang lain. Anto pernah bertanya, “Mama, kenapa Mama mau sama aku?” Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa memeluknya erat. Dia melanjutkan, “Aku tidak tahu, Mama. Aku merasa aneh. Aku mencintai Mama. Tapi aku juga tidak tahu kenapa.” Aku hanya tersenyum. “Mama juga mencintaimu, Sayang,” jawabku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku melakukannya karena aku takut kehilangan dia. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku melakukannya karena aku takut dia pergi dariku. Aku takut, dia akan membenciku. Aku pernah bertanya, “Sayang, apa kamu tidak merasa bersalah berhubungan badan dengan Mama?” Dia menggeleng. “Kenapa, Sayang?” Dia hanya tersenyum. “Aku tidak tahu. Aku merasa nyaman. Aku merasa aman dengan Mama. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, Mama.” Aku hanya bisa memeluknya erat. Aku merasa bersalah. Aku merasa bersalah karena telah merusak anakku sendiri. Aku merasa bersalah karena aku telah menghancurkan masa depan anakku sendiri. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada anakku sendiri. Dan aku tidak bisa melepaskannya. Suatu hari, Anto meminta kami berhubungan intim di dalam kamar mandi. Aku terkejut, tapi aku menuruti permintaannya. Dia mengunci pintu kamar mandi. Kami berdua telanjang. Dia memandikanku dengan sabun. Dia membersihkan tubuhku. Kami berciuman di bawah guyuran air pancuran. Anto memegang payudaraku. Dia mengisapnya. Aku menggelinjang. Dia kemudian menjilati serambi lempitku. Aku membalasnya dengan memegang kepalanya. Kami saling menjilati. Akhirnya, aku pun memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Aku berjongkok, dan dia memegang pinggangku. Aku terus menggoyangkan pinggulku. rudalnya semakin dalam masuk ke dalam serambi lempitku. Aku mencium lehernya, dan dia mengisap telingaku. Kami saling berbisik. “Mama, aku cinta Mama,” bisiknya. “Aku juga, Sayang,” jawabku. Kami terus melakukannya hingga kami berdua mencapai puncak kenikmatan. Setelah selesai, kami berpelukan. Kami sama-sama menyender di dinding kamar mandi. Kami lemas. Kami saling menatap. “Mama, aku ingin selamanya bersamamu,” katanya. Aku hanya bisa mengangguk. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Pagi-pagi sekali, Anto berpamitan untuk berangkat sekolah. Dia memelukku erat. “Mama, aku berangkat sekolah dulu, ya,” katanya. Aku mengangguk. Dia mencium keningku, dan aku mencium pipinya. Setelah dia pergi, aku pun membuka kiosku. Di kios, aku terus memikirkan Anto. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Aku hanya memikirkan dia, Anto, anakku, dan kekasihku. Di kios, aku melihat seorang perempuan muda masuk. Dia tampak sangat tergesa-gesa. Dia melihat-lihat pakaian. Dia memilih salah satu pakaian. Dia tampak cantik. Wajahnya berseri-seri. Aku jadi penasaran. “Kamu mau beli pakaian untuk apa, Dik?” tanyaku. “Aku mau beli untuk pacarku. Dia mau ulang tahun,” jawabnya. “Oh, pacarmu ganteng, ya?” tanyaku. Dia tersenyum. “Ganteng kok, Tante.” Aku pun tersenyum. Aku teringat pada Anto. Tiba-tiba, dia mengeluarkan HP dari tasnya. Dia menelepon seseorang. “Sayang, aku sudah sampai di kios. Kamu mau pilih yang mana?” Aku jadi penasaran. Siapa pacarnya? Aku pun mendekat. Dia menunjukkan beberapa foto. Foto seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah Andri. Aku terkejut. “Dia pacarmu, ya?” tanyaku. Dia mengangguk. “Namanya Andri. Kami pacaran sejak setahun yang lalu.” Aku terdiam. Aku tidak tahu harus bilang apa. Dia terus bercerita. “Kami berencana menikah dua tahun lagi, Tante. Dia bilang mau melanjutkan kuliah, dan aku mau kerja dulu.” Aku hanya bisa tersenyum. “Semoga kalian bahagia, ya,” kataku. Dia mengangguk. “Makasih, Tante.” Perempuan itu keluar dari kios. Aku langsung menutup pintu. Aku langsung menangis. Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya bahwa Andri, laki-laki yang pernah menjalin hubungan denganku, akan menikah. Aku tidak percaya bahwa aku akan kehilangan dia. Aku tidak percaya bahwa aku tidak akan bisa bersamanya lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sakit. Aku merasa begitu sakit di dadaku. Aku merasa benar-benar hancur. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku hanya bisa menangis. Aku menangis, menangis, dan terus menangis. Aku merasa begitu bodoh. Aku merasa begitu bodoh karena telah menyukai Andri. Aku merasa begitu bodoh karena telah berhubungan badan dengannya. Aku merasa begitu bodoh karena telah mencintainya. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah menganggapnya sebagai kekasihku. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah merusak anakku sendiri. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah membiarkan anakku sendiri melakukan hal itu padaku. Aku mengambil HP-ku. Aku menghubungi Andri. Dia tidak mengangkat. Aku terus meneleponnya. Dia terus tidak mengangkat. Aku mengiriminya SMS. “Andri, ini aku, Mia. Aku ingin bertemu. Aku ingin bicara.” Dia tidak membalas. Aku terus mengiriminya SMS. Dia terus tidak membalas. Aku merasa begitu putus asa. Aku merasa begitu hancur. Aku merasa begitu sakit. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya bisa menangis. Aku pulang ke rumah. Aku menunggu Anto. Aku menunggu dia pulang dari sekolah. Aku ingin menceritakan semuanya. Aku ingin menceritakan bahwa aku tidak bisa lagi berhubungan badan dengannya. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah mencintai orang lain. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah merusak masa depannya. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah menghancurkan hidupnya. Aku ingin menceritakan semuanya. Tapi aku takut. Aku takut dia akan membenciku. Aku takut dia akan pergi dariku. Aku takut dia akan mengancamku lagi. Aku takut dia akan berbuat nekat. Aku takut dia akan menghilang lagi. Aku takut kehilangan dia. Satu-satunya alasanku hidup ya cuma dia. Anto pulang. Dia menciumku. Dia memelukku. “Mama, aku pulang,” katanya. Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis. “Ada apa, Ma? Mama kenapa?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawab. Dia memelukku erat. “Mama, jangan nangis. Aku di sini. Aku akan selalu ada untuk Mama.” Aku menangis semakin kencang. Dia menggendongku ke kamar. Dia membaringkanku di ranjang. Dia memelukku erat. “Mama, aku cinta Mama,” bisiknya. Aku hanya bisa menangis. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa pasrah. Aku membiarkan Anto membuka semua pakaianku. Aku membiarkannya menciumiku. Aku membiarkannya meraba-raba tubuhku. Aku membiarkannya berhubungan badan denganku. Aku membiarkan dia melakukan apa pun yang dia mau. Aku sudah tidak peduli. Aku sudah tidak peduli dengan diriku. Aku sudah tidak peduli dengan masa depanku. Aku sudah tidak peduli dengan semuanya. Aku hanya ingin Anto tidak pergi dariku. Aku hanya ingin dia tetap di sisiku. Aku ingin dia tetap mencintaiku. Setelah selesai, kami berpelukan. “Ma, aku cinta Mama,” katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk. Aku memeluknya erat. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku hanya bisa pasrah. Aku hanya bisa berharap bahwa Anto akan tetap bersamaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan menghilang lagi. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan tetap mencintaiku. Pagi-pagi sekali, Anto berpamitan untuk berangkat sekolah. Dia memelukku erat. “Mama, aku berangkat sekolah dulu, ya,” katanya. Aku mengangguk. Dia mencium keningku, dan aku mencium pipinya. Setelah dia pergi, aku pun membuka kiosku. Di kios, aku terus memikirkan Anto. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Aku hanya memikirkan dia, Anto, anakku, dan kekasihku. Di kios, aku melihat seorang perempuan muda masuk. Dia tampak sangat tergesa-gesa. Dia melihat-lihat pakaian. Dia memilih salah satu pakaian. Dia tampak cantik. Wajahnya berseri-seri. Aku jadi penasaran. “Kamu mau beli pakaian untuk apa, Dik?” tanyaku. “Aku mau beli untuk pacarku. Dia mau ulang tahun,” jawabnya. “Oh, pacarmu ganteng, ya?” tanyaku. Dia tersenyum. “Ganteng kok, Tante.” Aku pun tersenyum. Aku teringat pada Anto. Tiba-tiba, dia mengeluarkan HP dari tasnya. Dia menelepon seseorang. “Sayang, aku sudah sampai di kios. Kamu mau pilih yang mana?” Aku jadi penasaran. Siapa pacarnya? Aku pun mendekat. Dia menunjukkan beberapa foto. Foto seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah Andri. Aku terkejut. “Dia pacarmu, ya?” tanyaku. Dia mengangguk. “Namanya Andri. Kami pacaran sejak setahun yang lalu.” Aku terdiam. Aku tidak tahu harus bilang apa. Dia terus bercerita. “Kami berencana menikah dua tahun lagi, Tante. Dia bilang mau melanjutkan kuliah, dan aku mau kerja dulu.” Aku hanya bisa tersenyum. “Semoga kalian bahagia, ya,” kataku. Dia mengangguk. “Makasih, Tante.” Perempuan itu keluar dari kios. Aku langsung menutup pintu. Aku langsung menangis. Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya bahwa Andri, laki-laki yang pernah menjalin hubungan denganku, akan menikah. Aku tidak percaya bahwa aku akan kehilangan dia. Aku tidak percaya bahwa aku tidak akan bisa bersamanya lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sakit. Aku merasa begitu sakit di dadaku. Aku merasa benar-benar hancur. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku hanya bisa menangis. Aku menangis, menangis, dan terus menangis. Aku merasa begitu bodoh. Aku merasa begitu bodoh karena telah menyukai Andri. Aku merasa begitu bodoh karena telah berhubungan badan dengannya. Aku merasa begitu bodoh karena telah mencintainya. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah menganggapnya sebagai kekasihku. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah merusak anakku sendiri. Aku merasa begitu bodoh karena aku telah membiarkan anakku sendiri melakukan hal itu padaku. Aku mengambil HP-ku. Aku menghubungi Andri. Dia tidak mengangkat. Aku terus meneleponnya. Dia terus tidak mengangkat. Aku mengiriminya SMS. “Andri, ini aku, Mia. Aku ingin bertemu. Aku ingin bicara.” Dia tidak membalas. Aku terus mengiriminya SMS. Dia terus tidak membalas. Aku merasa begitu putus asa. Aku merasa begitu hancur. Aku merasa begitu sakit. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya bisa menangis. Aku pulang ke rumah. Aku menunggu Anto. Aku menunggu dia pulang dari sekolah. Aku ingin menceritakan semuanya. Aku ingin menceritakan bahwa aku tidak bisa lagi berhubungan badan dengannya. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah mencintai orang lain. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah merusak masa depannya. Aku ingin menceritakan bahwa aku telah menghancurkan hidupnya. Aku ingin menceritakan semuanya. Tapi aku takut. Aku takut dia akan membenciku. Aku takut dia akan pergi dariku. Aku takut dia akan mengancamku lagi. Aku takut dia akan berbuat nekat. Aku takut dia akan menghilang lagi. Aku takut kehilangan dia. Satu-satunya alasanku hidup ya cuma dia. Anto pulang. Dia menciumku. Dia memelukku. “Mama, aku pulang,” katanya. Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis. “Ada apa, Ma? Mama kenapa?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawab. Dia memelukku erat. “Mama, jangan nangis. Aku di sini. Aku akan selalu ada untuk Mama.” Aku menangis semakin kencang. Dia menggendongku ke kamar. Dia membaringkanku di ranjang. Dia memelukku erat. “Mama, aku cinta Mama,” bisiknya. Aku hanya bisa menangis. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa pasrah. Aku membiarkan Anto membuka semua pakaianku. Aku membiarkannya menciumiku. Aku membiarkannya meraba-raba tubuhku. Aku membiarkannya berhubungan badan denganku. Aku membiarkan dia melakukan apa pun yang dia mau. Aku sudah tidak peduli. Aku sudah tidak peduli dengan diriku. Aku sudah tidak peduli dengan masa depanku. Aku sudah tidak peduli dengan semuanya. Aku hanya ingin Anto tidak pergi dariku. Aku hanya ingin dia tetap di sisiku. Aku ingin dia tetap mencintaiku. Setelah selesai, kami berpelukan. “Ma, aku cinta Mama,” katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk. Aku memeluknya erat. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku hanya bisa pasrah. Aku hanya bisa berharap bahwa Anto akan tetap bersamaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan menghilang lagi. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan tetap mencintaiku. Baca juga: Ngentot Sama Mertua Janda di Rumah
Cerita Dewasa Mama Janda Dan Anak Kesayangan Online
Cerita Dewasa Mama Janda Dan Anak Kesayangan hadir di Konten21 Mirror - site baca di internet dengan kompilasi terlengkap. Pembaruan Februari 2026.
Lihat juga: Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan, Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda, Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya.
Baca gratis tanpa iklan mengganggu di Konten21 Mirror.
Info Download
Video akan tersedia untuk download setelah iklan dibuka.
Simpan Konten
Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.
Konten Serupa
Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan - Story
Baca Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda
Kisah Tante Yang Dibuat Orgasme Berkali-kali Oleh Keponakannya | Konten21 Mirror
Baca Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda
Read Gairah Tante Kandung Perawan Tua Agen Jamu Crot
Strategi Memuaskan Tante Semok Adik Kandung Ibu Online
Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono