Sangelink – Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda. Nama aku Fajar (25 tahun), pengusaha muda dari Jakarta yang sekarang menjalankan bisnis keluarga di daerah Puncak, Bogor. Kejadian gila ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2024. Waktu itu aku sedang menikmati masa-masa lajang setelah hubunganku dengan mantan pacarku, Ririn, kandas di tengah jalan. Dalam kesunyian ini, aku sering melampiaskan diri dengan nonton film dewasa, kadang clubbing, atau menghabiskan waktu berjam-jam di internet. Fantasi gila mulai muncul di kepalaku. Aku membayangkan bisa mempersembahkan beberapa karyawati cantik untuk para karyawan lelakiku yang sudah lama mengabdi. Awalnya aku mencari cewek-cewek dari kenalan terdekatku untuk kupertemukan dengan para karyawanku. Mencari cewek itu butuh usaha ekstra, butuh lobi-lobi yang jitu. Kalau untuk para cowok, itu gampang. Siapa coba yang akan menolak tawaran menggiurkan seperti itu? Kemungkinan ditolaknya mungkin cuma satu banding sepuluh. Esoknya, aku mencoba mengajak seorang teman wanita yang pernah aku ajak ranjang. Hasilnya nihil, dia menolak mentah-mentah. Sialan, aku hampir mengurungkan niatku. Tapi keberuntunganku datang saat aku pergi ke klub malam. Di sana aku bertemu dengan Sinta (23) dan Laras (23), keduanya kenalanku saat kuliah dulu. Aku sudah lumayan akrab dengan mereka, jadi aku langsung mengutarakan niatku tanpa basa-basi. Mulanya mereka risih dengan ideku, tapi setelah aku rayu habis-habisan, Sinta akhirnya mulai bergairah membayangkan hal itu. Sedangkan Laras, meski awalnya ragu-ragu, akhirnya setuju juga setelah aku desak terus-terusan, persis seperti sales panci! Setelah puas dugem, aku mengantar Sinta pulang. Di mobil, Sinta sempat memijat-mijat penis aku yang sudah tegang hingga keluar, lalu diisapnya sampai bersih. Berikutnya, aku butuh satu cewek lagi untuk menambah keseruan. Aku coba telepon beberapa kenalan yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bisa diajak ‘pakai’. Dari tiga orang yang kuhubungi, akhirnya ada satu yang setuju, namanya Wulan (24), dia seorang mahasiswi seni rupa. Kebetulan dia baru putus juga dengan pacarnya. Phew… perjuanganku menahan rasa malu tidak sia-sia. Kini, aku tinggal mencari cowoknya. Aku berkeliling kebun teh milik keluargaku untuk menyeleksi kandidat yang cocok. Lima orang kurasa cukup. Kalau terlalu banyak, takutnya malah jadi ribut. Hanya dalam sekejap, aku sudah mendapatkan lima kandidat yang pas. Pilihan aku jatuh pada: Judul menarik lainnya : Ngentot Adik Tiri Saat Colmek Pak Budi, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang sudah bekerja sejak kebun teh ini masih dikelola kakekku. Aku pikir dia pantas menerima hadiah ini, mengingat pengabdiannya yang luar biasa. Meskipun sudah beruban, tubuhnya masih sangat fit. Pak Ujang, usianya sebaya dengan Pak Budi, dia sudah menduda. Aku rasa inilah saatnya dia mendapatkan “upah biologis” sekali-kali. Mang Agus, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, itulah yang menjadi alasanku memilih dia. Mang Udin, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa. Dani, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh lima tahun, bekerja di sini baru setahun, tapi rajin dan kerjanya bagus, pantas dia dapat hadiah ini. Setelah jam kerja usai, aku memanggil mereka semua ke kantorku untuk pertemuan pribadi. Awalnya mereka bingung, dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Tapi setelah aku menjelaskan maksudku, mereka terkejut dan gembira bukan main. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja aku tawarkan. “Hah, beneran nih, Tuan?” Pak Budi dan Mang Udin bertanya hampir bersamaan. “Iya, aku serius. Kalian tinggal datang dan menikmati, semuanya aku yang atur. Satu hal lagi, jangan sampai ada yang tahu selain kita, atau tidak sama sekali,” jawabku meyakinkan. Seperti dugaanku, tidak ada satu pun dari mereka yang menolak. Tidak sesulit mengajak cewek-cewek itu. Ya, memang dasarnya cowok, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas seperti ini? Apalagi kalau menyangkut perempuan, bahkan raja yang bijak pun tidak bisa menahan godaan seksual. Awalnya aku ingin acara ini dimulai besok, tapi Sinta SMS bilang ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Terpaksa acara ditunda besok lusa. Sial, aku jadi bete, tidak sabar menunggu. Satu jam terasa setahun saking udah kebeletnya. Malam itu aku sampai masturbasi saking bergairahnya. Tapi sisi positifnya, aku jadi bisa mempersiapkan segalanya dengan lebih baik. Aku bebaskan ketiga karyawati yang biasa bersih-bersih rumah untuk hari itu. Kebetulan sehari sebelum hari kemerdekaan. Aku suruh mereka pulang ke kampung halaman atau ke mana lah, yang penting tidak mengganggu acara gilaku. Aku juga memompa kasur udara yang empuk, lalu aku letakkan di ruang tamu sebagai arena tempur nanti. Akhirnya sampai juga di hari-H. Sekitar pukul dua siang, aku sudah selesai membereskan semua dokumen yang harus kutangani. Sisa-sisanya kuserahkan ke stafku. Saat itu, ada SMS masuk dari Wulan yang bilang dia sudah di depan rumahku. “Pagi-pagi amat nih dia datang,” pikirku. Aku segera menuju ke rumahku yang ada di samping kebun teh, dibatasi dua gerbang kayu. Aku masuk pekarangan rumah, di sana Wulan sedang jongkok mengelus-elus si Piko, anjing peliharaanku. “Woi, Lan, cepat amat ke sini? Kan aku bilang jam lima sore, sesudah bubar kerja,” sapaku. “Males bolak-balik jauh, Fajar,” jawabnya. “Kamu naik apa ke sini?” “Tadi nebeng si Riska, kebetulan dia lewat Lingkar Selatan,” jawabnya. Hari itu Wulan terlihat sangat cantik. Kaos ketat tanpa lengan dan celana panjang selututnya serba putih. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Meskipun kami pernah putus karena tidak cocok, kami masih berteman baik, bahkan kadang masih suka berhubungan badan. Secara fisik dia sempurna. Dadanya standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola. Dia juga jago menari dan main piano. Aku ajak dia masuk ke rumah. Di sana kami nonton film sambil ngobrol dan makan camilan, menunggu jam bubaran pabrik. Saat film sedang seru, tiba-tiba interkom berbunyi, ada urusan di kebun teh yang memintaku datang. “Kenapa sih ini orang-orang, masih butuh aku juga!” gerutuku dalam hati. “Kamu nonton sendiri dulu ya, aku ada urusan sebentar. Maaf ya,” kataku. Ternyata cuma ada dokumen yang harus aku tanda tangani. Cuma itu saja! Itulah kenapa aku tidak mau mengatur acara ini di siang hari, banyak gangguan seperti ini. Aku memeriksa sebentar kegiatan di sana, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi, aku kembali ke rumah. Saat keluar, aku lihat mobil Sinta sudah terparkir di halaman. Aku melirik jam tanganku. Wah, sudah mau jam setengah lima. Tidak terasa, cepat sekali. Berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai, hehehe… aku jadi mesum. “Lho, Sinta di mana? Tadi ada mobilnya di depan,” tanyaku pada Wulan karena tidak melihat Sinta di rumah. “Itu, lagi ke toilet. Acaranya masih lama enggak, Jar? Aku udah deg-degan nih,” tanya Wulan. “Sebentar lagi kok, jam lima baru bubar. Rileks saja, enggak usah tegang gitu, nanti juga enjoy,” kataku. “Yo, Sinta dari mana aja, you are so hot today!” sapaku begitu Sinta keluar dari kamar mandi. Saat itu Sinta memakai tank top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan punggungnya terbuka. Bawahannya memakai rok mini dari bahan jeans ungu, memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh Sinta yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik oriental tapi ekspresinya agak dingin. Karena itu, dia sering terlihat galak bagi yang belum kenal dekat, tapi kalau sudah akrab, dia enak diajak bicara, blak-blakan, dan pendengar yang baik. Setahuku, dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih pasangan seks, tapi mau saja menerima tantanganku ini. Entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat. Lanjut Bab 2: Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda CHAPTER DUA “Dari rumah lah. Eh, tinggal si Laras ya yang belum datang?” jawabnya. “Iya belum, enggak ada kabar lagi. Tadi aku telepon HP-nya enggak aktif,” kataku. “Kamu pakai begini bikin aku panas nih, San,” kataku sambil memandangi dirinya. Di balik celanaku, adikku juga mulai bangun. Tak dapat menahan diri lagi, aku langsung memeluk tubuh Sinta. Tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang, meremas pantatnya yang montok. “Nngghh… buru-buru amat sih, nanti saja ah!” katanya antara menolak dan menerima. “Maaf San… sebentar saja, kamu bikin aku nafsu sih,” sahutku sambil memagut lehernya. Rambutnya yang pendek memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tengkuknya. Dari sana, bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas. Nafas kami yang memburu terasa di wajah masing-masing. Perhatian Wulan pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah. Tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit, walau cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny. Sinta pun mulai merespons dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi. Kami melepaskan diri. Hmm… siapa ya, Laras atau para karyawanku? Pintu kubuka, ternyata para buruhku. Lima-limanya datang. Aku beritahukan bahwa dari tiga cewek, baru dua yang datang. Aku minta mereka agar bisa berbagi jatah dengan adil. “Ini beneran, Tuan? Kita enggak usah keluar uang, kan?” si Dani seakan masih tak percaya. Aku cuma mengangguk meyakinkannya. “Sudah, enggak usah banyak bacot, nikmati saja euy!” Pak Ujang menepuk punggung pemuda itu. Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Wulan terlihat gugup, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu per satu. Sementara Sinta, meskipun agak gugup, lebih luwes. Dia berdiri menyambut kedatangan mereka, bahkan menyalami mereka saat aku perkenalkan. Ketika Mang Udin dengan nakal mencolek pantatnya pun, Sinta membalasnya dengan senyum menggoda. Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak, aku persilakan mereka memilih sesuai selera mereka. Dengan ini, pesta resmi kubuka. Pak Ujang dan Dani sepertinya lebih memilih Wulan. Mereka pun menghampirinya dan duduk di sofa, mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Sinta mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sudut yang strategis untuk menyaksikan live show paling panas ini. Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail. Akhirnya, setelah kupikir-pikir, aku memutuskan menceritakannya per adegan ditambah berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu. Semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian. Aku akan memulainya dengan adegan Sinta. Dikerubungi ketiga orang itu, Sinta nampak tegang, namun dia menutupinya dengan senyuman dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Terkadang mereka mengajukan pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Budi mulai berani mengelusi punggung Sinta yang terbuka. “Eeemm… geli, Pak!” desahnya menggoda. “Masa digituin aja geli, Neng? Gimana kalau diginiin?” Mang Udin meremas payudaranya. Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Agus juga mulai merayapi lekuk tubuh Sinta sambil menyingkap rok mininya. Paha mulus itu dia raba-raba. Tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Sinta yang masih tertutup celana dalam berwarna biru langit. “Bapak buka bajunya, ya, Neng.” Tanpa menunggu jawaban Sinta, Pak Budi membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Sinta tidak memakai bra karena tank top itu memiliki cup dada di dalamnya. Begitu melorot, payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Budi dan Mang Udin mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Agus kini berjongkok mengagumi keindahan paha Sinta yang jenjang dan mulus itu. Tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu. “Neng, pahanya mulus amat… putih lagi,” puji Mang Agus sambil menjilatnya. Yang tak kalah menarik, tentu bagian pangkalnya. Kini tangan Mang Agus sudah sampai ke situ, membelai kemaluannya dari luar. Jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Udin mengenyot payudara kanannya. Sinta menengadah dengan mata terpejam. Mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia sudah mabuk birahi. Tubuhnya menggeliat saat Mang Agus menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan di tengah celana dalamnya. “Pak Budi, di sana aja, ah. Capek dong berdiri terus?” kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ. Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Sinta di kasur empuk itu. Lalu pakaiannya dilucuti satu per satu hingga tak tersisa apapun di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Sinta yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat, ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak. Sinta sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera ‘membantainya’ itu. Ketiganya kembali mengerubungi Sinta yang terlihat gugup, menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan. “Hehehe… si Neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah!” kata Mang Agus mengangkat tangan kiri Sinta yang menutup payudaranya. “Wah, ternyata bodinya amoy bagus banget ya!” kata Mang Udin yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu. Pak Budi menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah, lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar kencang dan mataku melotot menyaksikan adegan itu. Ditambah lagi, adegan di sofa di hadapanku di mana tubuh telanjang Wulan sedang dijilati dan digerayangi. Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam, lalu mulai memijatnya. Ini jauh lebih spektakuler daripada film dewasa dengan artis tercantik sekalipun. Mang Agus mencium dan menjilat leher jenjang Sinta sambil mengusap-usap payudara satunya. Lalu ciumannya bergerak ke atas, menggelitik kupingnya, menyebabkan Sinta menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga, mulut Mang Agus memagut bibir Sinta. Mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Sinta yang mungil dan tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Sinta nampak sudah tidak merasa risih lagi. Yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini. Terlihat dari matanya yang terpejam, menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Agus dalam genggamannya. Mang Udin sedang berlutut di antara kedua paha Sinta, tapi dia belum juga menusuknya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawah Sinta, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri Sinta, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk. Kuraih HP-ku. Oh… si Laras. Aku hampir lupa sama dia saking asyiknya. Pesannya berbunyi begini: “Fajar, pestanya jadi ga? Pasti lagi asyik, ya? Maaf nih telat, tadi diajak teman jalan-jalan sih. Kalau jam setengah tujuh aku ke sana masih bisa, ga?” Sialan, bikin orang nunggu. Mana datangnya telat banget lagi. Tapi, aha… terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi… aku menyeringai sambil membalas SMS-nya: “Gile, telat amat sih. Ya sudah, kamu datang saja. Mungkin masih keburu, kalau enggak, kita sekalian makan malam saja, oke.” Wow, kini Sinta sedang menjilati secara bergantian penis Pak Budi dan Mang Agus yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu, Mang Udin menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Sinta. Rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Udin. Kini Sinta membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Budi. Setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Agus. Tak lama kemudian, Mang Udin menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Sinta lebih lebar. Dia bersiap memasukkan penisnya. Sinta juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan. “Pelan-pelan ya, Mang. Aku takut sakit, habis kontol Abang gede gitu!” ucap Sinta memperingatkan. “Tenang saja, Neng. Abang enggak bakal kasar kok!” hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya. Nampaknya Mang Udin kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Sinta karena ukurannya yang besar. Maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong. “Aakkhh… nggghhh… sakit!” rintih Sinta menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya. “Masa pelan gitu sakit sih, Neng?” kata Pak Budi yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya. “Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali!” sahut Mang Agus cengengesan. “Aaaaahhh…” jeritnya saat Mang Udin menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu. Selanjutnya, tanpa ampun, dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Sinta. Sementara di kiri dan kanannya, kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Agus dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Budi menelusuri tubuh itu dengan lidahnya. Bagian-bagian sensitif tubuh Sinta tidak luput dari jilatannya. Sinta mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tubuhnya menggeliat hebat. Sebentar saja Sinta sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun, Mang Udin masih belum keluar. Dia menaikkan kedua betis Sinta ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Sinta. Cairan itu nampak menetes dari daerah itu, bercampur dengan cairan kewanitaannya. Sinta hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Budi mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Sinta membasahi penisnya dulu. Setelah dikulum sebentar, dia menindih Sinta sambil memasukkan penisnya. Pinggulnya mulai bergerak naik-turun di atas tubuhnya. Sinta yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Budi melumat bibir mungil Sinta yang mengap-mengap itu, meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali. Kuambil tisu mengelap tanganku yang basah. Mang Udin mengambil air minum yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku. “Gimana, Mang, sip enggak?” “Enak banget, Bos. Abang enggak pernah mimpi bisa dapat kesempatan ini. Sering-sering bikin yang kaya gini, ya!” komentarnya dengan antusias. “Tenang, Mang. Jangan boros tenaga dulu, nanti masih ada satu lagi, lho!” nasihatku. Kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Laras kalau dia datang nanti. Pak Budi tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Sinta kini di atasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya di atas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Agus berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Sinta mulai menjilatinya dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu. Buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat. “Uuuhh… ayo, Neng, enak gitu… mmm!” desah Mang Agus. Semakin hanyut dalam lautan birahi, Sinta tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya. Dengan gemas, Pak Budi menjulurkan kedua tangannya, mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya. Saat itu Dani baru saja selesai dengan Wulan. Setelah menyemprot perut Wulan dengan spermanya, dia minum dulu dan langsung menuju Sinta. Sementara itu, Mang Udin mulai mencicipi Wulan. Dani duduk di sebelah kanan Sinta dan meminta izin Pak Budi yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit puting Sinta karena badan Sinta mengejang dan mendesah tertahan di tengah aktivitasnya mengoral Mang Agus. Dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya. “Ooohh… isep, Neng… iseepp!!” tiba-tiba Mang Agus mendesah panjang dan makin menekan kepala Sinta ke selangkangannya. Spermanya menyembur di dalam mulut Sinta. Mungkin karena badannya berguncang-guncang, isapan Sinta tidak sempurna. Cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Agus beranjak pergi meninggalkan Sinta setelah di cleaning service. Diambilnya segelas air dari meja untuk diminum. Tiba-tiba goyangan Sinta makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang. Kepalanya menengadah sambil mendesah panjang. Kedua tangannya memegang erat lengan Pak Budi. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Budi belum. Dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas, menusuk Sinta. Tubuh Sinta melemas kembali dan ambruk ke depan, menindihnya. Saat itu, Dani sudah pindah ke belakangnya. Dia meremas pantat yang padat itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang. Tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu, diiringi rintihan pemiliknya. Tubuh Sinta kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich. Kedua penis itu menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas. “Ooohh…. oooh… aakkhh!” gairah Sinta mulai bangkit lagi. Vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Budi yang sudah di ambang klimaks. Pak Budi lalu melenguh panjang, menyemburkan maninya di dalam vagina Sinta. Akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Sinta dengan nafas terengah-engah. Setelah ditinggalkan Pak Budi, Sinta cuma melayani Dani saja. Namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga Sinta menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung diremas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks. Sperma Dani tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Sinta sudah babak-belur. Tubuhnya bersimbah peluh. Bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus. Sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tisu. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku. Dengan tisu, kuseka keringat di dahinya. Minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis. “Sudah ya, San. Kalau enggak kuat, jangan dipaksain lagi, nanti pingsan kamu!” saranku. Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng. Enggak apa-apa katanya, cuma perlu istirahat sedikit. Dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Saat itu, Pak Ujang menghampiri kami bermaksud menikmati Sinta, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit. Karena tubuh Sinta yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar, kami berpelukan. Kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari. Cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan. “Sudah, mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action!” kataku. Dia cekikikan sambil menyemprotkan shower ke arah kakiku. Aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw… gile, Wulan mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu. Dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet. The hottest gangbang i’ve ever seen! Untuk lebih lengkapnya, lebih baik kita ikuti kisah Wulan dari awal. Dani dan Pak Ujang duduk mengapit Wulan, masing-masing di kanan dan kirinya. Wulan terlihat tegang sekali. Beberapa kali dia memanggil-manggil namaku. “Kenapa, Lan? Kok sekarang tegang gitu katanya mau balas dendam sama pacar kamu itu!” kataku. “Oh, jadi Neng sudah punya pacar, ya!” kata Pak Ujang. “Enggak, baru putus kok,” jawabnya malu-malu. “Putusnya kenapa, Neng?” tanya Dani. Wulan cuma menggeleng tanpa menjawabnya. “Sudah ah kamu, kalau enggak mau dijawab jangan maksa!” kata Pak Ujang pada rekannya. “Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentot enggak?” tanya Dani cengengesan. Rona merah jelas sekali pada wajah Wulan yang putih mulus. Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban sambil tersenyum malu-malu. “Kalau gitu pernah diginiin, dong, hehehe!” Pak Ujang tertawa-tawa meremas buah dada Wulan. “Diginiin juga pernah!” Dani meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar. Wulan menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Ujang makin gemas memijati payudaranya. Si Dani sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk membangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Ujang meremas payudara yang satunya. Wulan hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya. Wulan sepertinya menurut saja. Dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selututnya. “Ini dibuka aja, ya, Neng,” pinta Dani. Wulan mengangguk, maka Dani pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga dia telanjang dada. Dani langsung melumat yang kanan dengan rakus. “Pentilnya bagus ya, Neng, kecil, merah lagi,” komentar Pak Ujang sambil memilin-milin putingnya. Pak Ujang menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Wulan, membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya, membuat tanda kemerahan di situ. Rambut Wulan yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu. Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Ujang menghentikan kegiatannya dan memanggil Dani yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya. “Eh, Dan, kita taruhan yuk, yang menang boleh ngentot si Neng duluan!” tantangnya. “Taruhan apaan, Pak? Saya sih ayo aja,” jawab Dani. “Coba tebak, si Neng ini jembut enggak?” tanyanya dengan nyengir lebar. Muka Wulan jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini. Aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain. “Hmmm… ada enggak, Neng?” tanya Dani sambil menatapi selangkangan Wulan. “Eee… nanya lagi, orang disuruh tebak!” omel Pak Ujang menyentil kepalanya. Wulan senyum mesem dan menjawab tidak tahu. “Ada aja deh!” tebak si Dani. “Yuk kita tes, bener enggak!” kata Pak Ujang dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Wulan. “Eemmhhh…” desis Wulan saat merasakan tangan Pak Ujang merabai kemaluannya. “Weleh… sialan, bener juga kamu, Dan!” gerutunya karena ternyata kemaluan Wulan memangnya berbulu, lebat lagi. Dani tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Wulan. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Ujang tetap di dalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Dani mulai membuka sabuk yang dikenakan Wulan dan menurunkan resletingnya. Sebelumnya dia menyuruh Pak Ujang menyingkirkan tangannya dulu. Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Dani turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Wulan. Tampak kemaluan Wulan dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Wulan telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa. Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Dani masih berjongkok di antara kedua paha Wulan. Tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian. “Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya enggak tahan aja!” kata Pak Ujang sambil mendekap tubuhnya. Bibirnya mencium pipi Wulan, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu. Belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Dani makin mendekati vagina Wulan sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Wulan bergetar ketika jemari Dani mulai menyentuh bibir kemaluannya. Pasti dia bisa merasakan napas Dani menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Dani membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Wulan yang sedang dilumat Pak Ujang. Keringatnya mulai bercucuran. “Wah… asyik, saya baru pernah lihat memeknya amoy. Dalemnya merah muda, seger euy!” komentar Dani mengamati vagina itu. “Pak Ujang, mau lihat enggak nih, bagus banget lho!” sahut Dani padanya. “Hmmm… iya bagus ya. Kamu aja dulu, Dan. Saya mau nyusu dulu!” kata Pak Ujang sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya. Waktu dia keluarkan, cairan lendirnya menempel di jari itu. Pak Ujang mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya. Dia jilat puting itu lalu diisapnya kuat-kuat. Sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain. “Hhhnngghh… Mang, oohh!” Wulan mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Ujang. Wulan makin menggeliat saat wajah Dani makin mendekati selangkangannya dan “Aaaahh…!” desahnya lebih panjang. Tubuhnya menggeliat hebat, kedua pahanya mengapit kepala Dani. Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya. Klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan, saling bersahutan dengan desahan Sinta yang saat itu baru ditusuk Mang Udin. “Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih? Kasih lihat dong kontolnya ke Neng Wulan, pasti sudah enggak sabar dia!” kataku pada Dani dan Pak Ujang. Pak Ujang nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga telanjang. Dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu, memamerkannya pada Wulan. “Nih, Neng, kontol Abang gede, ya? Sama pacar Neng punya gede mana?” tanyanya sambil menaruh tangan Wulan pada benda itu. “Gede, ya, Mang… keras,” jawab Wulan yang tangannya sudah mulai mengocoknya. Wulan yang tadinya malu-malu, hilang rasa malunya saking terangsangnya. Sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar. Yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu. Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Dani masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya. Sementara Wulan sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Dani, menahan birahinya yang meninggi. “Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan. Kalau enggak mau, saya tusuk juga nih!” kata Pak Ujang yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Wulan. “Iya, sabar, Pak. Ini sudah mau kok,” kata Dani yang mulai menanggalkan pakaiannya. “Yuk, Neng, basahin dulu nih… isep!” dia sodorkan penisnya ke mulut Wulan sambil memegangi kuncirnya. Wulan agak ragu memasukkan penis Dani. Mungkin agak jijik kali, belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Dani terus mendesaknya. Apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Wulan membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Dani mengeluarkan penisnya. Diangkatnya kaki Wulan ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Ujang. Dani memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Wulan. Pelan-pelan mulai memasukinya. Tubuh Wulan menekuk ke atas. “Aaakkhh…!” demikian keluar dari mulutnya hingga penis Dani mentok ke dalam vaginanya. Dani pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Dani melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai. Kedua tangannya memegangi betis Wulan. “Ah-ah-ah…. uuhh…!!” desah Wulan dengan mata terpejam. “Enak ya, Neng?” kata Pak Ujang dekat telinganya. Sejak Dani menggenjot Wulan, Pak Ujang terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Wulan dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Wulan sudah sangat keras karena daritadi dimain-mainkan. Wulan sendiri tangannya menggenggam penis Pak Ujang. Dia mengocok-ngocok penis itu karena horny-nya. Kedua kakinya menjepit pinggang Dani, seolah minta disodok lebih dalam lagi. Tanpa mencabut penisnya, Dani memiringkan tubuh Wulan sehingga posisinya berbaring menyamping. Satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow… seru sekali melihat paha Dani bergesekan dengan paha mulus Wulan dan penisnya keluar masuk dari samping. Pak Ujang menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Wulan, memintanya melakukan oral seks. Wulan masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan tangan. Sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Dani di mulutnya tadi. Belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu. Dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa dan tidak tahu diri, makanya dia tidak pernah mau berhubungan seks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali ini saja, pertama dan terakhir, demikian tegasnya. “Jilatin dong, Neng, jangan cuma main tangan aja!” pinta Pak Ujang tidak sabar merasakan mulutnya. “Enggak, Mang… jijik… enggak mau.. ahh!” gelengnya dengan sedikit mendesah. “Lho, gimana sih si Neng ini? Tadi kan dia dikasih, masa saya enggak?” “Ayo dong, Neng, sebentar aja kok!” Pak Ujang terus mendesak dengan menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Wulan. Karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Ujang menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya di mulut, Pak Ujang memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncirnya. “Emmhh.. ehhmm… Mang… saya… mmm!” Wulan berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis. “Mmmm… gitu dong, Neng, baru namanya anak manis. Sudah lama Abang enggak diginiin, uuh!” Pak Ujang melenguh dan merem-melek keenakan dioral Wulan. Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU. Tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku. Apalagi waktu itu Sinta juga sedang main ‘kuda-kudaan’ di atas penis Pak Budi sambil mengoral penis Mang Agus dengan bernafsu. Akhirnya Wulan orgasme duluan. Badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Ujang rupanya cukup pengertian. Dia melepaskan dulu penisnya, membiarkan Wulan menikmati orgasmenya secara utuh. Badannya menegang beberapa saat lamanya. Pak Ujang menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Dani pun menyusul sekitar tiga menit kemudian. Sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Ujang yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Dani cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat. Lalu dia langsung beralih ke Sinta seperti yang telah kuceritakan di atas. Posisinya segera digantikan Mang Udin yang baru recovery setelah istirahat. Pak Ujang memberikan minum pada Wulan dan mengambilkan tisu mengelap keringatnya. “Euleuh… si Dani teh gimana, buang peju sembarangan aja!” gerutu Mang Udin yang baru tiba, melihat ceceran sperma di perut Wulan. Pak Ujang sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih. Wulan juga ikut tertawa kecil. “Sudah, gampang, Mang. Dibersihin aja kan beres!” hiburku padanya. Mang Udin langsung mencumbui payudara Wulan yang masih didekap Pak Ujang. Mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan. “Ooohh… oohhh!!” desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Udin. Tangan satunya di bawah, sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal. Diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat, tangannya merayap ke kemaluan. Tubuh Wulan bergetar merasakan kenakalan jari Mang Udin yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, Pak Ujang sangat getol mencupangi leher, tengkuk, dan bahunya. “Hehehe… lihat nih sudah basah gini!” sahut Mang Udin mengeluarkan jarinya dari vagina Wulan. “Emm… enak pisan!” dijilatinya cairan yang belepotan di jari itu. Kemudian Pak Ujang menarik pinggang Wulan, mendudukkannya di pangkuannya dengan membelakanginya. Satu tangannya meraih vaginanya dan membuka bibirnya. “Masukin, Neng, pelan-pelan!” suruhnya. Wulan tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya. Lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam vaginanya. Namun karena penis itu besar, baru masuk kepalanya saja sudah membuat Wulan merintih-rintih dan meringis menahan nyeri. “Duh… sakit nih, Mang. Sudah ya!” rintihnya. “Wah, tanggung dong, Neng, kalau gini mah. Ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok!” kata Pak Ujang. “Nanti juga enak kok, Neng. Sakitnya sebentar aja!” timpal Mang Udin. Beberapa kali Pak Ujang menekan tubuh Wulan juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya. Mata Wulan sampai berair menahan sakit. Pak Ujang mulai menggoyangkan tubuhnya. “Arrgghh… uuhhh… sempit amat… enak!” gumam Pak Ujang di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Wulan. Sementara Mang Udin meraih kepala Wulan. Wajahnya mendekat dan hup… mulut mereka bertemu. Lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Wulan. Dia hanya pasrah saja menerimanya. Dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya. Entah secara sadar atau tidak, turut beradu dengan lidah lawannya. Lima belas menit lamanya batang Pak Ujang yang perkasa menembus vagina Wulan. Runtuhlah pertahanan Wulan. Sekali lagi, badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Ujang dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Wulan memeluk erat-erat kepala Mang Udin yang sedang mengenyot payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Wulan, rupanya Pak Ujang juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya melemas kembali. Tampak olehku ketika Pak Ujang melepas penisnya, dari vagina Wulan menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Udin langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun di atasnya. Wulan menggeliat setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu, Mang Agus dan Pak Budi mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu di atas tubuh mantan pacarku itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Baca Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda

1,920 views 1 bulan lalu

Konten21 Mirror menyediakan Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda dengan pengalaman baca yang optimal. ga ada iklan.

Lihat juga: Cerita Seks Perselingkuhan Majikan Cantik Bersama Pembantunya Bernama Pono, Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur, Bersetubuh Dengan Pacar Anak Ku yang Cantik Dan Harum.

Baca sepuasnya tanpa registrasi di Konten21 Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.